MAKALAH INDIVIDU PRAKTIK MANAJEMEN KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN



MAKALAH INDIVIDU
PRAKTIK MANAJEMEN
KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
diajukan  untuk memenuhi tugas mata kuliah
MANAJEMEN ISLAM
DI 
S
U
S
U
N
OLEH
ü  RIZKI AKMALIA
NIM.0332163018






PRODI: MAGISTER MPI-A
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2016





BAB I
PENDAHULUAN

A.                     LATAR BELAKANG MASALAH
Pada masa jahiliyah, Utsman bin Affan termasuk salah seorang tokoh yang sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat.  Selain berkedudukan tinggi, dia juga sangat kaya raya, pemalu, dan ucapannya enak didengar. Sehingga, masyarakat sangat mencintainya. Utsman ibnu ‘Affan ibnu Abil Ash ibnu Umaiyah dilahirkan  di waktu Rasulullah berusia lima tahun dan masuk Islam atas seruan Abu Bakar Ash Shiddiq.[1]Beliau merupakan saudagar besar dan kaya, dan sangat pemurah menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan agama Islam. Semasa Rasulullah masih memimpin, beliau adalah salah satu donator tetap bagi dakwah. Dan pada masa setelahnya beliau tetaplah seorang pejuang muslim yang teguh kepada pendirian dan keislamannya, sehingga dalam kepemimpinannya sebagai khalifah banyak membuahkan kemajuan-kemajuan yang signifikan.
Utsman bin Affan, salah satu sahabat Nabi ini dikenal sebagai khalifah ketiga dalam sejarah peradaban islam. Pada masa Rasulullah masih hidup, Utsman merupakan sekretaris Rasulullah sekaligus masuk dalam Tim penulis wahyu yang turun dan pada masa Kekhalifahannya Al Quran dibukukan secara tertib. Kekerabatan Utsman dengan Rasulullah bertemu pada urutan silsilah ‘Abdu Manaf,  Rasulullah berasal dari Bani Hasyim sedangkan Utsman dari kalangan Bani Ummayah. Antara Bani Hasyim dan Bani Ummayah sebelum masa kenabian Muhammad, dikenal sebagai dua suku yang saling bermusuhan dan terlibat dalam persaingan sengit dalam setiap aspek kehidupan. Maka tidak heran jika proses masuk Islamnya Utsman bin Affan dianggap merupakan hal yang luar biasa, populis, dan sekaligus heroik.
Dalam masa pemerintahan Utsman bin Affan, telah banyak terjadi perubahan dan kebijakan-kebijakan diantaranya mengangkat anggota bawahan dari kalangan keluarga untuk menduduki jabatan publik yang strategis. Dengan beberapa kebijakan itulah sehingga banyak kalangan yang menilai kepemimpinan khalifah berbau nepotisme yang kemudian berkembang langkah konspirasi untuk menjatuhkan khalifah Usman bin Affan hingga akhirnya sampai pada tahap pembunuhan. Namun, jika kita melihat dari dua sudut pandang yang berbeda, apakah benar khalifah Utsman bin Affan melakukan praktik manajemen yang nepotisme dan korupsi? Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai bakround Utsman bin Affan serta praktik manajemennya dalam masa kepemimpinan dan bagaimana sejarah mencatat dimasa kepemimpinannya ini.

B.                      RUMUSAN MASALAH
1.    Siapakah Khalifah Utsman Bin Affan?
2.    Bagaimana pengangkatan Utsman Bin Affan sebagai khalifah?
3.    Bagaimana praktik manajemen pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman Bin Affan?
4.    Apa saja sifat-sifat kepemimpinan Khalifah Utsman Bin Affan?
5.    Bagaimana kita memandang isu nepotisme yang ditudingkan kepada Khalifah Utsman Bin Affan?
6.    Bagaimana akhir pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan?

C.                      TUJUAN
1)   Untuk mengetahui siapa Khalifah Utsman Bin Affan
2)   Untuk mengetahui bagaimana pengangkatan Utsman Bin Affan sebagai khalifah
3)   Untuk mengetahui praktik manajemen pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman Bin Affan
4)   Untuk mengetahui sifat-sifat kepemimpinan Khalifah Utsman Bin Affan
5)   Untuk mengetahui apakah benar isu nepotisme yang ditudingkan kepada Khalifah Utsman Bin Affan
6)   Untuk mengetahui akhir pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan







BAB II
PEMBAHASAN

A.           BIOGRAFI KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
Utsman bin Affan memilki nama lengkap Utsman bin Affan bin Abil Umayyah bin Abdussyama bin Abdimanaf bin Qushai bin Kitab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib Al-Qurasyi Al-Umawy. Beliau menisbatkan dirinya kepada bani Umayyah, salah satu kabilah Quraisy. Utsman bin Affan lahir  tahun 576 M di Thaif, 6 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Ayahnya benama Affan dan ibunya bernama Arwa binti Kuriz bin Rabiah bin Habib Abdisyam bin Abdi Manaf.[2]Garis keturunannya bertemu dengan nasab (silsilah) Rasulullah SAW pada Abdul Manaf.
Utsman bin Affan memiliki fisik tidak pendek dan juga tidak tinggi, berkulit lembut, berbadan padat, berahang besar dengan jenggot lebat, berpaha besar, berdada lebar, berambut lebat, dan berjenggot pirang. Khalifah Utsman bin Affan adalah keturunan dari bani Umayyah yang kaya raya dan dermawan. Utsman bin Affan masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan  Rasulullah dimana nenek Utsman bin Affan yang bernama Ummu Hukaim dan ayah Rasulullah yang bernama Abdullah saudara kandung.[3]
Utsman biasanya dipanggil dengan sebutan “Abu Abdillah atau Abu Amar atau Abu Laila”. Sebutan lain adalah “Dzun Nurain” yang artinya “memiliki dua cahaya” karena menikahi dua putri Rasulullah yaitu Ruqqoyah dan Ummu Kultsum. Dari pernikahannya dengan Ruqoyyah lahirlah anak laki-laki. Tapi tidak sampai besar kemudian meninggal ketika berumur 6 tahun pada tahun 4 Hijriah. Khalifah Usman bin Affan mempunyai 9 anak laki-laki yaitu Abdullah al-Akbar, Abdullah al-Ashgar, Amru, Umar, Kholid, al-Walid, Uban, Said dan Abdul Muluk dan 6 anak perempuan.[4]
Beliau tumbuh diatas akhlak yang mulia dan perangai yang baik. Beliau sangat pemalu, bersih jiwa dan suci lisannya, sangat sopan santun, pendiam dan tidak pernah menyakiti orang lain. Beliau suka ketenangan dan tidak suka keramaian/ kegaduhan, perselisihan serta teriakan keras. Beliau rela mengorbankan nyawanya demi untuk menjauhi hal-hal tersebut. Dan karena kebaikan akhlak dan mu'amalahnya, beliau dicintai oleh Quraisy, hingga merekapun menjadikannya sebagai perumpamaan. Imam Asy-Sya'bi mengatakan : "Dahulu Utsman sangat dicintai oleh orang-orang Quraisy, mereka menjadikannya sebagai suri taudalan, mereka memuliakannya. Sampai-sampai para ibu dari kalangan orang-orang Arab, jika menghibur anaknya, mengatakan : “Demi Allah yang Maha Penyayang, aku mencintaimu seperti kecintaan Quraisy kepada Utsman”.
Utsman bin 'Affan hidup  ditengah orang-orang musyrikin Quraisy yang menyembah berhala-berhala, namun beliau tidak menyukai kesyirikan, animisme/ dinamisme serta adat istiadat yang kotor. Beliau memiliki kedudukan yang tinggi disisi Nabi SAW. Pernah suatu saat Nabi SAW bertelekan di rumah Aisyah dalam keadaan tersingkap kedua paha atau betis beliau. Lalu Abu Bakar dan Umar minta izin untuk masuk dan beliaupun mengizinkan, sedangkan beliau tetap dalam keadaan tersingkap kedua paha beliau. Kemudian datang Utsman meminta izin untuk masuk, lalu Nabi SAW duduk dan membetulkan pakaian beliau. Seketika Aisyah bertanya kepada beliau tentang hal tersebut,
يا عائشة: ألا أستحى من رجل تستحى منه الملا ئكة 
dan beliau menjawab : "Tidakkah aku malu kepada orang yang malaikat saja malu   kepadanya" (diriwayatkan oleh Imam Muslim (4/1866)).

B.            PENGANGKATAN UTSMAN BIN AFFAN SEBAGAI KHALIFAH
Utsman bin affan dipilih dan diangkat dari enam calon yang ditunjuk oleh khalifah Umar Bin Khattab saat menjelang ajalnya, karena pada saat itu desakan dari sebagian besar kaum muslimin agar Umar menunjuk penggantinya dengan alasan supaya tidak terjadi kekacauan setelah beliau wafat, akhirnya Umar mengajukan enam orang sahabat terbaiknya yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman ibn Auf, saad bin ibn Abi Waqqash, Zubair ibn Awwam, dan Thalhah ibn Ubaydillah. Ternyata kaum muslimin lebih memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah.[5]
Setelah Umar wafat, berkumpullah mereka yang dipilih itu untuk menjadi komisi sebagai ahli syuara yang  bertempat dirumah Aisyah.[6]Akan tetapi setelah terjadi permusyawaratan yang lama, akhirnya terpilihlah Abdurrahman bin Auf sebagai ketua komisi pemilihan Khalifah. Ia pun menghubungi para pemimpin-pemimpin Muhajirin dan Anshar, dan para sahabat pilihan, dan sahabat biasa agar bisa berkumpul dan bermusyawarah untuk pembaiatan khalifah selanjutnya. Kaum muslimin melihat bahwa Utsman bin Affan sangat cocok menjadi khalifah ketiga. Kaum muslimin melihat bahwa sifat baik dan kedekatan yang sangat baik dengan Rasulullah menjadi salah satu alasan yang menjadikan Utsman bin Affan menjadi khalifah.[7]
Pemilihan Utsman bin Affan sebagai khalifah merupakan babak baru pemerintahan Islam. Utsman bin Affan diharapkan mampu membawa kesejahteraan umat Islam. Pengalaman-pengalamannya dianggap akan mampu membawa kemajuan berbagai bidang seperti militer dan agama. Kondisi pemerintahan Islam setelah wafatnya Umar bin Khattab banyak terjadi kekacauan yang terjadi. Utsman bin Affan diharapkan mampu untuk mengembalikan kejayaan Islam setelah banyaknya wilayah yang memberontak. Sikap dermawan dan belas kasih kepada rakyat kecil diharapkan mampu mengubah kondisi masyarakat Islam menjadi lebih sejahtera.

C.            PRAKTIK MANAJEMEN KHALIFAH USTMAN BIN AFFAN
Utsman mulai memangku jabatan sebagai khalifah saat usianya 70 tahun.[8]Ia memerintah selama 12 tahun. Masa kepemimpinannya dibagi menjadi dua periode. Periode pertama 23H/ 644M – 29H/650M tanpa persoalan yang serius dan periode kedua pada 30H/650M – 35H/ 656M yang ditandai dengan berbagai masa sulit.
Dalam menjalankan kekhalifahannya Utsman tidak setegas Abu Bakar dan Umar. Beliau mempunyai sifat lembut dan pemalu, hal ini berpengaruh terhadap karakter beliau dalam mengambil keputusan. Terjadi dalam beberapa kasus pengangkatan jabatan. Utsman cenderung tidak bisa menolak permintaan saudaranya untuk dijadikan pejabat. Hal inilah yang menyebabkan para pemerhati sejarah menganggap bahwa Utsman bin Affan melakukan praktik nepotisme dalam masa kepemimpinannya.
Enam tahun pertama berjalan dengan lancar. Kebijakan yang beliau jalankan merupakan kelanjutan dari politik Umar bin Khattab. Kepemimpinannya sukses ditandai dengan perluasan kerajaan Islam yang besar sekali. Ia berhasil menciptakan keamanan, keterampilan, ketentraman, dan keharmonisan masyarakat.
Pada enam tahun kedua, disinilah mulai terjadi kekacauan. Tugas Utsman pada periode kedua ini adalah memberikan kekuatan, kekuasaan atau otoritas kepada suku tertentu Bani Umayyah. Dengan menempatkan orang-orang Umayyah pada posisi kekuasaan, maka banyak pihak yang jadi murka dan selanjutnya mendorong untuk terang-terangan memberontak terhadap Utsman.[9]
Dalam memimpin, Utsman selalu menggunakan metode musyawarah dengan rakyatnya sebagai jembatan kedekatannya dengan para rakyat. Beliau selalu menerapkan konsep yang adil serta memberi reward kepada rakyat. Namun seara nyata bentuk manajemen yang ditetapkan dalam pemerintahaan Utsman tercermin dalam pengumpulan mushaf Al-qur’an menjadi satu yang di kenal dengan Mushaf Utsmani. karena adanya kekhawatiran tersia-sianya al-qur’an yang disebabkan adanya perbedaan lahjah(pengucapan) dan pembacaan (qiraah) Ahli Syam dan ahli Iraq serta primordialisme bacaan mereka (truth claim). Di sisi yang lain, Utsman mengkodifikasi al-Qur’an agar umat islam saling bersatu dalam satu bacaan yang sama serta menyatukan tertib susunan surat-surat menurut tertib urutan sebagai yang kelihatan pada mushaf-mushaf sekarang.[10]
Sementara dalam manajemen pemerintahannya, Utsman menempatkan beberapa anggota keluarga dekatnya untuk menduduki jabatan publik yang strategis. Hal ini memicu penilaian ahli sejarah untuk menekankan bahwa telah terjadi proses dan motif nepotisme dalam tindakan Utsman tersebut.[11]Adapun daftar keluarga Utsman yang sebagai alasan motif nepotisme tersebut adalah sebagai berikut :
             1.     Muawiyah Bin Abu Sufyan yang menjabat sebagi gubernur Syam, Beliau termasuk Shahabat Nabi, keluarga dekat dan satu suku dengan Utsman.
             2.     Pimpinan Basyrah, Abu Musa Al Asy’ari, diganti oleh Utsman dengan Abdullah bin Amir, sepupu Utsman.
             3.     Pimpinan Kuffah, Sa’ad Bin Abu Waqqash, diganti dengan Walid Bin ‘Uqbah, saudara tiri Utsman. Lantas Walid ternyata kurang mampu menjalankan syariat Islam dengan baik akibat minum-minuman keras, maka diganti oleh Sa’id Bin ‘Ash. Sa’id sendiri merupakan saudara sepupu Utsman.
             4.     Pemimpin Mesir, Amr Bin ‘Ash, diganti dengan Abdullah Bin Sa’ad Bin Abu Sarah, yang masih merupakan saudara seangkat ( dalam sumber lain saudara sepersusuan, atau bahkan saudara sepupu) Utsman.
             5.     Marwan Bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, diangkat menjadi sekretaris Negara.

Selain kebijakan dalam mengangkat keluarga sebagai anggota, ada beberapa kebijakan lain yang dlakukan oleh khalifah Utsman di antaranya:
1.    Perluasan masjidil Haram (Mekkah) dan Mesjid Nabawi (Madinah). Dikarenakan bertambahnya pemeluk islam pada waktu itu, kemudian tergerak hatinya untuk memperluas masjid dengan uang dari kantongnya sendiri.[12]Ia membangun dengan batu berukir, tiang-tiang batu dan atap dari pohon jati. Diperluasnya Mesjid Nabawi menjadi panjang 160 dzira’ (hasta, sekitar 18inci) dan lebar 50 dzira’.[13]Pada tahun 26H, ia meluaskan Masjidil Haram dengan membeli rumah-rumah sekitar masjid.[14]
2.    Meneetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, guna melindungi orang-orang di Negerinya. Utsman meyakini bahwa penduduk daerah lebih memerlukan perlindungan karena dekatnya posisi mereka dengan musuh, yaitu negeri-negeri yang memerlukan adanya prajurit yang terus berjaga-jaga.[15]
3.    Membentuk angkatan laut yang kuat. Utsman memerintahkan ke Mu’awiyyah agar mengadakan angkatan laut untuk menaklukkan pulau-pulau Siprus, Koreda, Rodes, dan menguasai Lautan Tengah.[16]Utsman bin Affan membentuk angkatan laut ini guna memperluas wilayah islam
4.    Membangun gedung mahkamah, gedung pemerintahann yang repretatif. Diantaranya, membangun gedung mahkamah untuk mengadili berbagai kasus. Yang dulu di zaman khalifah sebelumnya dilakukan di Masjid.[17]
5.    Membangun pertanian terhadap lahan-lahan kosong.[18]Khalifah Utsman memerintahkan umat islam pada waktu itu untuk menghidupkan kembali tanah-tanah yang kosong untuk kepentingan pertanian.
6.    Ekspansi kekuasaan,
a)    Perluasan Tabaristan, berhasil ditaklukkan oleh Sa’id bin Al ‘Ash. Dikatakan bahwa tentara Islam dalam penaklukan ini telah menyertakan Al-Hasan dan Al-Husain, dua putera Ali, begitu juga Abdullah bin Al-Abbas, ‘Amr bin Al-Ash dan Az-Zubair bin Al-Awwam.[19]
b)   Perluasan ke Khurasan, tahun 31H dan Utsman mengirim Abdullah bin Amir, Gubernur Basrah, bersama sejumlah besar tentara untuk menaklukkan kembali. Terjadilah perang antara tentara Islam dengan penduduk Merw, Natsabur, Nama, Hirah, Fusang, Bidshis, Merw Asy Syahijan dan lain-lain dari penduduk wlayah Khurasan. Dalam perang ini, pihak kaum muslimin berhasil menaklukkan kembali wilayah Khurasan.[20]
c)    Perluasan ke Armenia, menjelang pertengahan tahun 27H/ 647 M Armenia berhasil menjadi kawasan Islam.[21]
d)   Perluasan ke Afrika (Tunisia), adapun upaya pertama yang dilakukan Abdillah bin Sarah sebagai penguasa di daerah Mesir adalah membuat pangkalan militer. Dari pangkalan inilah, tentara kaum muslimin mengadakan penyerangan ke daerah kekuasaan Romawi, serta Afrika Utara termasuk daerah kekuasaannya sehingga mau tidak mau Romawi akan terpancing untuk membela daerah kekuasaanya yang diserang kaum muslimin.[22]
e)    Perluasan ke Ray dan Azerbaijan. Utsman mengutus Walid bin Uqbah menjadi gubernur Islam di Kuffah untuk menyerang agar mereka kembali membayar jizyah. Melihat kedatangan tentara pasukan Islam yang jumlahnya besar, akhirnya Ray dan Azerbaijan jatuh ke tangan kaum muslimin dan mereka percaya pihak muslimin kuat dan besar.[23]
f)    Perluasan ke Cyprus (wilayah Romawi) tahun 28H/ 648M.
7.    Melakukan kodifikasi al-Qur’an sehingga menjadi pedoman yang melekat di hati kaum muslmin dan setiap orang-orang muslimin yang bepergian selalu menjadikan al-Qur’an sebagai kompas petunjuk jalan mereka dan banyak diantara mereka yang sudah hafal al-Qur’an. Mengingat urgensi (pentingnya) pengkodifikasian al-Qur’an untuk menjadi acuan, maka dibentuklah panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Mereka ditunjuk Utsman untuk membukukan al-Qur’an. Dalam hal ini, Utsman menasehatkan supaya:
a.    Mengambil pedoman kepada bacaan yang mereka hafal
b.    Kalau ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan menurut dialek (lahjaj) suku  Quraisy, sebab al-Qur’an diturunkan menurut dialek mereka.[24]

D.           SIFAT-SIFAT KEPEMIMPINAN KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
Utsman bin affan dikenal sebagai seorang pemimpin yang familier dan humanis. Khalifah merupakan salah satu pemimpin yang lemah lembut dan sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya. Beliau lebih suka mengadakan pendekatan persuasif jika terjadi gejolak. Diantara sifat-sifat kepemimpinan yang dimilikinya yaitu:
1.    Menjalankan Al-Qur’ an dan As-Sunnah.
2.    Teguh pendirian, lemah lembut dan sopan santun, bahkan terhadap lawannya.
3.    Bertanggung jawab dan bersikap Adil.
4.    Berani mengambil keputusan.
5.    Pandai memilih bawahannya yang kompeten meskipun dari keluarga.
6.    Aspiratif terhadap pendapat rakyatnya.
7.    Dermawan terhadap perjuangan islam, seperti:
a)    membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham, dan kemudian mewakafkannya untuk kepentingan umum.
b)   Mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk.
c)    Thalhah bin Ubaidillah berutang kepada Usman bin Affan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Ketika hendak membayar utangnya, Usman bin Affan menolaknya dan menyedekahkan utang tersebut kepada Thalhah.
d)   Pada masa pemerintahan Abu Bakar,Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

E.            MELIHAT DUA SISI KEPEMIMPINAN KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
Upaya memojokkan pemerintahan Utsman sebagai rezim nepotisme hanya berangkat dari satu sudut pandang dengan argumentasi yang mengungkap bahwa ada motif social-politikbelaka. Lebih dari itu, banyak yang berkutat dalam dugaan semata. Sumber data yang tersedia kebanyakan didominasi oleh naskah yang ditulis pada masa dinasti Abbasiyah, yang secara politis telah menjadi rival bagi Muawiyah, keluarga, dan sukunya, tidak terkecuali khalifah Utsman Bin Affan.
Oleh karena itu kesulitan pertama yang harus dihadapi adalah menyaring data-data valid diantara rasionalisasi kebencian dan permusuhan yang menyelusup di antara input data yang tersedia. Pada masa awal pemerintahannya, Utsman Bin Affan menunjukkan kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Wilayah Islam diperluas bahkan Utsman juga berhasil membentuk armada dan angkatan laut yang kuat sehingga berhasil menghalau serangan tentara Byzantium di Laut Tengah. Peristiwa ini merupakan kemenangan pertama tentara Islam dalam pertempuran dilautan.
Sebagaimana kronologis cerita yang penulis paparkan di atas, Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagi pejabat publik. Di antaranya adalah Muawiyah Bin Abu Sufyan. Sosoknya dikenal sebagai politisi piawai dan tokoh yang berpengaruh bagi bangsa Arab.[25]Yang telah diangkat sebagai kepala daerah (Gubernur) Syam sejak masa khalifah Umar Bin Khathab. Muawiyah adalah sosok negarawan sekaligus pahlawan Islam pada masa khalifah Umar maupun Utsman. Dengan demikian tuduhan nepotisme Utsman jelas tidak bisa masuk melalui celah Muawiyah tersebut. Sebab beliau telah diangkat sebagai gubernur sejak masa Umar.
Tuduhan nepotisme[26]terhadap kepemimpinan Usman bin Affan hanyalah entrik politik oleh para pesaingnya yang juga memiliki kepentingan kekuasaan, hal ini telihat dari adanya reaksi-reaksi mereka yang sengaja mengeruhkan suasana agar pemerintahan khalifah Utsman dalam keadaan goyang, sembari mencari titik kelemahan yang dimiliki oleh khalifah Usman bin Affan.
Untuk pengganti Walid Bin Uqbah menjadi Sa’ad Bin Abu Waqqash (saudara sepersusuan/ saudara tiri) khalifah Utsman dikarenakan Walid memiliki tabiat buruk (suka minum khamr dan berkelakuan kasar), maka khalifah Utsman memecatnya dan menyerahkan pemilihan pimpinan baru kepada rakyat Kuffah. Sebagaimana kasus di Basyrah, gubernur pilihan rakyat Kuffah tersebut terbukti kurang cakap menjalankan pemerintahan dan hanya bertahan selama beberapa bulan. Atas permintaan rakyat, pemilihan gubernur kembali diserahkan kepada khalifah. Ustman Bin Affan kemudian mengangkat Sa’id Bin ‘Ash, kemenakan Khalid Bin Walid dan saudara sepupu Utsman, sebagai gubernur Kuffah, karena dianggap cakap dan berprestasi dalam penaklukan front utara, Azarbaijan.[27]
Namun terjadi konflik antara Sa’id dengan masyarakat setempat sehingga khalifah Utsman berfikir ulang terhadap penempatan sepupunya tersebut. Maka kemudian Sa’ad digantikan kedudukannya oleh Abu Musa Al Asy’ari, mantan gubernur Basyrah. Dari alur cerita tersebut, nepotisme dalam bingkai makna negative kembali sukar dibuktikan.
Sedangkan di Mesir, Ustman meminta laporan keuangan daerah kepada Amr Bin Ash selaku gubernur dan Abdullah Bin Sa’ah Bin Abu Sarah selaku ‘Amil. Laporan Amil dinilai timpang sedangkan Amr dianggap telah gagal melakukan pemungutan Pajak. Padahal negara sedang membutuhkan pendanaan bagi pembangunan armada laut guna menghadapi serangan Byzantium. Khalifah Utsman tetap menghendaki Amr Bin Ash menjadi gubernur Mesir sekaligus diberi jabatan baru sebagai panglima perang. Namun Amr menolak perintah khalifah tersebut dengan kata-kata yang kurang berkenan di hati sang khalifah (perkataan kasar).
Maka kemudian Amr Bin Ash dipecat dari jabatannya. Sedangkan Abdullah Bin Sa’ah Bin abu sarah diangkat menggantikannya sebagai gubernur. Namun kebijakan gubernur baru tersebut dalam bidang agraria kurang disukai rakyat sehingga menuai protes terhadap khalifah Utsman.
Salah satu bukti penguat isu nepotisme yang digulirkan adalah diangkatnya Marwan Bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, sebagai sekretaris Negara. Namun tuduhan ini pada dasarnya hanya sekedar luapan gejolak emosional dan alasan yang dicari-cari. Marwan Bin Hakam sendiri adalah tokoh yang memiliki integritas sebagai pejabat Negara. Disamping sebagai ahli tata negara yang cukup disegani, bijaksana, ahli bacaan Al Quran, periwayat hadits, dan diakui kepiawaiannya dalam banyak hal serta berjasa menetapkan alat takaran.[28]
Dengan demikian terbukti bahwa Khalifah Utsman Bin Affan tidak melalukan nepotisme dan praktek korupsi selama masa kepemimpinannya. Dari berbagai bukti di atas sudah memperjelas bahwa praktik kepemimpinan beliau benar-benar bersih dan juga dapat dibuktikan seara rasional  sesuai dengan pengakuan beliau sendiri dalam salah satu khutbahnya yang menyatakan, “ Mereka menuduhku terlalu mencintai keluargaku. Tetapi kecintaanku tidak membuatku berbuat sewenang-wenang. Bahkan aku mengambil tindakan-tindakan (kepada keluargaku) jikalau perlu. Aku tidak mengambil sedikit pun dari harta yang merupakan hak kaum muslimin. Bahkan pada masa Nabi Muhammad pun aku memberikan sumbangan-sumbangan yang besar, begitu pula pada masa khalifah Abu Bakar dan pada masa khalifah Umar”.
Dalam khutbah tersebut khalifah Utsman menyatakan sebuah bukti yang kuat tentang kekayaan yang masih dimilikinya guna membantah isu korupsi tersebut, “ Sewaktu aku diangkat menjabat khalifah, aku terpandang seorang yang paling kaya di Arabia, memiliki ribuan domba dan ribuan onta. Dan sekarang ini (setelah 12 tahun menjabat khilafah), manakah kekayaanku itu ? Hanya tinggal ratusan domba dan dua ekor unta yang aku pergunakan untuk kendaraan pada setiap musim haji”.
Perlu di ingat, bahwa dalam manajemen, mengangkat pekerja berdasarkan kekerabatan bukan hal yang salah. Kemungkinan pengenalan karakteristik anggota keluarga jelas lebih baik dibandingkan melalui seleksi dari luar keluarga. Jika hal tersebut menyangkut kinerja dan harapan ketercapaian tujuan dimasa mendatang jelas pemilihan bawahan dari pihak keluarga tidak bertentangan dengan sebuah aturan apa pun. Artinya secara mendasar nepotisme sendiri bukan merupakan sebuah dosa. Namun demikian kata “nepotisme’ dewasa ini telah mengalami perubahan makna substansial menjadi paradigm yang negative. Bukan hanya bagi Indonesia, namun bagi sejumlah negara “pendekatan kekeluargaan” tersebut telah menempati urutan teratas bagi kategorisasi “dosa-dosa politis” untuk sebuah rezim kekuasaan.
Oleh karena itu, bahwa pemilihan anggota keluarga untuk menempati struktur kepemimpinan dalam kasus khalifah Utsman ini dengan rasionalisasi kaum intelektual yang memahami dari pengenalan karakteristik, jelas kurang relevan diterapkan pada masa ini, walaupun bukan berarti tidak benar. Maka salah satu jalan yang harus dilakukan guna membedah isu seputar nepotisme ini adalah melalui cross check sejarah terhadap masing-masing anggota keluarga Utsman yang terlibat dalam kekuasaan.

F.             AKHIR PEMERINTAHAN KHALIFAH USTMAN BIN AFFAN
Akhir pemerintahan khalifah Utsman bin Affan ditandai dengan adanya tragedi pembunuhan Utsman bin Affan. Faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya tragedi pembunuhan khalifah Utsman bin Affan antara lain.[29]
1.    Kemakmuran yang diberikan khalifah Utsman dan berpengaruh pada masyarakat. Kemakmuran membawa umat Islam dengan kesibukan urusan dunia dan terpesona dengan kenikmatan tersebut.
2.    Karakter perubahan sosial pada masa pemerintahan Utsman bin Affan telah terjadi perubahan sosial di dalam kehidupan umat Islam yang mulai memperlihatkan tanda-tandanya yang semakin kuat. Hingga muncullah tragedi yang memilukan yang dimulai sejak pertengahan masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan. Puncak tragedi tersebut adalah terjadinya pemberontakan dan pembangkangan terhadap pemerintahan yang berkuasa hingga menyebabkan khalifah Utsman bin Affan terbunuh.
3.    Penggunaan Berbagai Strategi untuk Membangkitkan Kemarahan Rakyat. Di antara strategi paling efektif untuk membangkitkan kemarahan umat Islam adalah mempropagandakan berbagai isu tentang pemerintahan khalifah Utsman bin Affan. Ide untuk melakukan fitnah terhadap pemerintahan khalifah Utsman bin Affan adalah Abdullah bin Saba’. Abdullah bin Saba’ menginginkan agar Utsman bin Affan turun dari jabatannya menjadi khalifah. Fitnah merupakan salah satu cara agar seseorang menjadi bersalah dan dianggap tidak layak menjadi khalifah. Ini merupakan salah satu faktor yang juga mengakibatkan terbunuhnya Utsman bin Affan. Fitnah tersebut mencoreng nama baik Utsman bin Affan sebagai khalifah yang baik dan dermawan. Polemik kerusuhan politik pada akhir pemerintahan Utsman bin Affan akhirnya menjadikannya korban sebagai orang yang dipersalahkan.
4.    Lemahnya karakter kepemimpinan Usman turut pula menyokongnya, khususnya dalam menghadapi gejolak pemberontakan. Bahwa Usman adalah pribadi yang sederhana dan sikap yang lemah lembut sangat tidak sesuai dalam urusan politik dan pemerintahan, terlebih dalam kondisi yang kritis. Pada kondisi yang demikian dibutuhkan sikap yang tegas untuk menegakkan stabilitas pemerintahan. Sikap seperti ini tidak dimiliki oleh Usman. Pada beberapa kasus ia terlalu mudah untuk memaafkan orang lain sekalipun musuhnya sendiri yang membahayakan.   

















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Sistem  pemerintahan islam dibawah kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan Tahun 644-656 berjalan selama 12 tahun dalam dua periode. Kepemimpin Utsman bin Affan sudah diasah sebelum menjadi Khalifah. Perannya yang besar sudah terlihat sejak kepemimpinan Abu Bakar bahkan sejak Nabi masih ada. Pengalaman dalam bidang pemerintahan membuatnya menjadi pemimpin yang sanggup menjadi panutan umat Islam.
Praktik manajemen yang beliau gunakan adalah konsep keadilan, musyawarah, dan terkadang memberi rewardkepada rakyat bahkan tindakan yang nyata dapat dilihat dari pengumpulan mushaf-mushaf al-Qur’an yang dijadikan satu yaitu mushaf Utsmani dengan tujuan agar umat muslim bersatu dalam satu baaan. Selain itu banyak terbentuk armada, angkatan laut dan sebagainya yang tidak terlepas dari konsep manajemen. Pada masa Utsman bin Affan ini juga  banyak wilayah yang telah dikuasai oleh pemerintahan Islam. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa pada waktu itu merupakan zaman keemasan dan kejayaan Islam.
Khalifah Utsman dalam menjalankan roda pemerintahan juga dibantu oleh lembaga-lembaga di setiap bidang. beliau selalu mengumandangkan sifat kejujuran dalam setiap bidang dan peduli terhadap masyarakatnya hingga masyarakat diberi ladang pertanian, badan pajak dijalankan secara benar, dan keamanan wilayah pemerintahan Islam dikondisikan secara baik.
Dikarenakan khalifah banyak mengangkat anggota dari kalangan keluarga sebagai pejabat public, maka timbullah isu-Isu nepotisme dalam pemerintahan yang terbukti tidak benar. Dalam pengangkatan, Utsman memiliki rasionalisasi berdasarkan kebutuhan di zaman yang terjadi pada masanya serta mewakili kebijakan yang seharusnya diambil.
Adapun pemberontakan terhadap Utsman terjadi oleh banyak faktor yang melatar belakanginya. Indikator yang kuat di karenakan adanya rekayasa terhadap diri beliau agar menjatuhkan kekhalifahannya.
           



DAFTAR PUSTAKA

Al Maududi,  Abu A’la, Khilafah dan Kerajaan. Terj. Al Baqir. (Mizan, Bandung, 1984)
Ash-Shallabi,  Ali Muhammad, Biografi Utsman bin Affan, terj. Umarul Faruq AbuBakar, (Solo: Beirut, 2014)
As-Suyuthi,  Imam, Tarikh Khulaa’: Sejarah Para Khalifa.Terj. Muhammad Ali Nurdin, (Jakarta: Qusthi Press, 2015)
Dasuki,  A. Hafidz, (Pimred).et.all. Ensiklopedi Islam. Jilid III. Cetakan IV. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,1997)
Departemen Agama, Ensiklopedi Islam-3, (Jakarta:Anda Utama, 1993)
fu’ad,  Ah.Zakki, Sejarah Peradaban Islam Paradigma Teks, Reflektif dan Filosofi, (Surabaya, Indo Pramaha, 2012)
Hasan,  Hasan Ibrahin, Sejarah dan Kebudayaan Islam-I,terj.A. Bahauddin, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001)
Hasjimi,  A, Dinamika Letak Negara Islam, (Surabaya: Bina Ilmu)
Ja’arian,  Rasul, Sejarah Islam terj.Ilyas Hasan (Jakarta:Lentera Bashitara, 2003)
Katsir, Ibnu, Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur  Rasyidin, (Jakarta: Darul Haq: 2002)
Khalid, K.M. Utsman bin Affan (Khalifah Penjunjung Al-Qur’an). (Bandung: Mizania,2014)
Magfiroh,  Lailatul, khalifah Utsman Bin Affan 644-645 M (Studi Historis tentang Kebijakan Politik”, (skripsi IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2005)
Mahali,  A. Mudjab, biografi sahabat Nabi SAW-1, (Yogyakarta: BPFE, 1984)
Munawwir, Imam, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam, (Surabaya, Bima Ilmu, 2006)
Mustofa,  Agus,  Perlukah Negara Islam, (Surabaya: Padma Press, 2013)
Osman,  A. Latif, Ringkasan Sejarah Islam. Cetakan XXIX. (Jakarta: Widjaya, 1992)
Sami bin Abdillah bin Ahmad, Silsilah Atlas Tarikh Khulafaurosyidin, (Maktabah Obekan, 2006)
Shiddiqi,  Nourouzzaman. Menguak Sejarah Muslim. (Yogyakarta: PLP2M,1984)
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: Pustaka Setia,2008)
Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997)



[1] Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur  Rasyidin, (Jakarta: Darul Haq: 2002).,hal. 6
[2] Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam, (Surabaya, Bima Ilmu, 2006).,hal.79
[3] Supriyadi, D. Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: Pustaka Setia,2008).,hal.86-88
[4] Sami bin Abdillah bin Ahmad, Silsilah Atlas Tarikh Khulafaurosyidin, (Maktabah Obekan, 2006).,hal.13-14.
[5] Ah.Zakki u’ad, Sejarah Peradaban Islam Paradigma Teks, Reflektif dan Filosofi, (Surabaya, Indo Pramaha, 2012).,hal.69
[6] A,Hasjimi, Dinamika Letak Negara Islam, (Surabaya: Bina Ilmu).,hal.187
[7] Khalid, K.M. Utsman bin Affan (Khalifah Penjunjung Al-Qur’an). (Bandung: Mizania,2014)..hal.67-69
[8] A. Latif Osman. Ringkasan Sejarah Islam. Cetakan XXIX. (Jakarta: Widjaya, 1992).. Hal. 67
[9] Rasul Ja’arian, Sejarah Islam terj.Ilyas Hasan (Jakarta:Lentera Bashitara, 2003).,hal.161
[10] Imam Munawwir, Op.Cit.,hal.84-85
[11] Abu A’la Al Maududi. Khilafah dan Kerajaan. Terj. Al Baqir. (Mizan, Bandung, 1984). Hal. 120-130
[12] Imam Munawwir, Op.Cit, hal.80
[13] Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulaa’: Sejarah Para Khalifa.Terj. Muhammad Ali Nurdin, (Jakarta: Qusthi Press, 2015).,hal.167
[14] Imam Munawwir, Op.Cit,.,hal.82
[15] Ali Muhammad Ash-Shallabi, Biografi Utsman bin Affan, terj. Umarul Faruq AbuBakar, (Solo: Beirut, 2014).,hal.238
[16] Imam Munawwir, Op.Cit, hal.82
[17] Agus Mustofa,  Perlukah Negara Islam, (Surabaya: Padma Press, 2013).,hal.115
[18] Ibid.,hal.11
[19] Hasan Ibrahin Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam-I,terj.A. Bahauddin, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001).,hal.492
[20] Iibid.,hal.492
[21] Departemen Agama, Ensiklopedi Islam-3, (Jakarta:Anda Utama, 1993).,hal.1267
[22] A. Mudjab Mahali, biografi sahabat Nabi SAW-1, (Yogyakarta: BPFE, 1984).,Hal.234
[23] Lailatul Magfiroh, khalifah Utsman Bin Affan 644-645 M (Studi Historis tentang Kebijakan Politik”, (skripsi IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2005).,hal.41
[24] Imam Munawwir, Op.Cit.,hal.84
[25] A. Hafidz Dasuki, (Pimred).et.allEnsiklopedi Islam. Jilid III. Cetakan IV. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,1997). hal. 247
[26] Ibid.,hal.248
[27] Nourouzzaman Shiddiqi. Menguak Sejarah Muslim. (Yogyakarta: PLP2M,1984). Hal. 80
[28] Ibid
[29] Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997)., hal.413-454

0 Comments

Post a Comment